banner 1458x375

Badan Geologi Tambah 12 Patok Penanda Land Subsidence di Kota Pekalongan

  • Bagikan
Tim Badan Geologi Kementerian ESDM saat meninjau lokasi pemasangan patok pendeteksi land subsidence di Kota Pekalongan, Rabu (18/8).
Tim Badan Geologi Kementerian ESDM saat meninjau lokasi pemasangan patok pendeteksi land subsidence di Kota Pekalongan, Rabu (18/8).
banner 468x60

Batang Update, Pekalongan –  Fenomena terjadinya penurunan permukaan tanah atau land subsidence di daerah pesisir Pantai Utara (Pantura) seperti di Kota Pekalongan, Jawa Tengah saat ini kian memprihatinkan dan membutuhkan penanganan yang serius dan optimal.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2020 lalu, penurunan tanah terjadi sekitar 6 sentimeter per tahun. Hal itu berdasarkan hasil penyelidikan geologi terpadu di Pantura meliputi daerah Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, dan Demak. Dari sejumlah daerah di Pantura tersebut, Kota Pekalongan menjadi sorotan. Lantaran di Kota Batik tersebut mengalami penurunan tanah sehingga berdampak terhadap banjir rob.

Oleh sebab itu, di tahun 2021 ini, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) akan menambah pemasangan 12 buah patok penanda penurunan muka tanah untuk mengetahui persis berapa sebetulnya penurunan tanah di Kota Pekalongan.

Baca Juga: Memperingati HUT RI di Tengah Pandemi, Refleksi Perjuangan Tegakkan Kedaulatan dan Kemandirian

Patok-patok tersebut akan dipasang di 4 titik lokasi berbeda, di mana masing-masing wilayah ditempatkan 3 buah patok di 1 titik lokasi. 4 titik lokasi tersebut yakni di Kelurahan Panjang Baru dan Degayu untuk wilayah Kecamatan Pekalongan Utara, kemudian di Kecamatan Pekalongan Timur tepatnya di Kelurahan Setono, dan Kecamatan Pekalongan Barat di Kelurahan Tirto.

“Saat ini masih memang masih dalam masa pemantauan dan penelitian dari berbagai pihak, salah satunya dari Badan Geologi yang memasang patok di Stadion Hoegeng dan Kecamatan Pekalongan Selatan, tahun 2021 ini juga mereka akan memasang patok-patok lainnya,” tutur Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini, Rabu (18/8/2021).

Lebih lanjut Anita berharap, dengan semakin banyaknya alat yang digunakan untuk mendeteksi, nantinya akan semakin jelas titik-titik di mana tanah di Kota Pekalongan itu sebetulnya turunnya berapa sentimeter per tahunnya, dan di daerah-daerah mana saja yang sekiranya perlu mendapatkan perhatian khusus dengan adanya laju penurunan tanahnya yang cepat.

Patok Pendeteksi Land Subsidence di Kota Pekalongan.
Patok Pendeteksi Land Subsidence di Kota Pekalongan.

Dijelaskan Anita, sebelumnya sudah ada dua patok yang dipasang di Kota Pekalongan untuk menghitung penurunan tanah yang terjadi, yakni yang terpasang di Stadion Hoegeng Kecamatan Pekalongan Barat yang menunjukkan penurunan muka tanah sekitar 0,5 sentimeter per bulan, sehingga setiap tahunnya 6 sentimeter. Sementara, untuk patok kedua yang sudah terpasang adalah di Kecamatan Pekalongan Selatan yang menunjukkan penurunan muka tanah relatif tidak terlalu cepat atau sekitar 0,2 sentimeter per bulan.

“Untuk penambahan patok penanda penurunan muka tanah yang dianggarkan dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), saat ini sudah dalam tahap proses pengukuran seismik untuk bisa segera dipasang. Kemudian, untuk titik tepat lokasi pemasangannya, kami masih melihat dari hasil geolistrik untuk mengetahui titiknya di mana, sampai kedalaman berapa, dan sebagainya. Saat ini yang sudah dilaksanakan proses pengukuran geolistrik untuk pemasangan patok penanda ada di Kelurahan Setono,” tandasnya.

banner 465x150
banner 120x600
  • Bagikan
banner 1458x180