banner 1200x250
Sosial  

3 Tahun Mengidap Tumor di Kepala, Gadis Kecil di Batang Ini Tak Bisa Melihat

Reni
Reni, gadis berusia 8 tahun, seharusnya sudah menginjak kelas 2 Sekolah Dasar sama seperti saudara kembarnya, Rena. Namun apa daya, sakit tumor di kepala Reni membuatnya sulit melihat dan hanya terbaring di tempat.
banner 1200x60

BATANGUPDATE.COM, BATANG – Tumor di kepala nya bermula saat Reni masih berusia 5 tahun. Kala itu, Reni terjatuh ketika berangkat mengaji bersama teman-temannya.

Semenjak kejadian tersebut Reni mengalami demam disertai muntah. Reni sempat menjalani pengobatan di Puskesmas dan didiagnosa gejala asam lambung. Tak lama, muncul benjolan di kepala Reni, lalu mulai kehilangan penglihatan.

banner 1200x300

Reni sempat menjalani pengobatan rutin di Ruma Sakit QIM Batang. Meski penglihatannya belum pulih, Reni masih bisa bergerak seperti biasa dan juga ceria sebagaimana anak seumurannya.

Namun, baru-baru in penyakit Reni semakin parah, usai keluarganya mengalami sejumlah musibah beruntun.

“Waktu itu saya mengalami kecelakaan dan tulang kaki kanan saya retak. Beberapa hari kemudian, anak pertama saya juga kecelakaan hingga rahangnya terluka parah,” ujar Tarwati, ibu Reni kepada tim ACT (Aksi Cepat Tanggap) Pekalongan pada 15 Februari lalu.

Motor yang biasa dipakai Reni berobat, oleh keluarga terpaksa dijual untuk biaya hidup. Proses pengobatan Reni pun akhirnya terganggu, dan  penyakit Reni semakin parah.

“Karena musibah itu motor kami jual, dan sekarang tinggal ada motor yang sudah agak rusak dan tidak bisa dibawa perjalanan jauh untuk kontrol Reni,” ujar Tarwati.

Saat ini Reni tak bisa bergerak dengan normal karena tubuhnya lemas. Benjolan di kepala pun semakin membesar.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Reni diketahui menderita tumor di bagian belakang kepala sebelah kiri. Reni pun harus menjalani operasi pemasangan selang untuk mengurangi cairan di benjolan kepalanya.

“Terakhir kami mengantar Reni kontrol menggunakan ambulan desa, dan itu membutuhkan biaya sekitar Rp100.000 untuk bensin dan supirnya. Uang kami pas-pasan” ujar Bu Tarwati.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Caryono ayah Reni, bekerja sebagai buruh potong kayu yang diberi upah Rp50.000 – Rp70.000,- per hari. Jika tidak ada yang memintanya memotong kayu, Pak Caryono bekerja sebagai penambang pasir di sungai tak jauh dari rumahnya. Pasir tersebut baru bisa dijual ketika sudah mencapai 1 rit. Butuh waktu lebih dari seminggu untuk mendapatkan pasir sebanyak itu.

“Kalau musim hujan begini, cari pasir juga tambah susah,” ujar Pak Caryono.

Saat ini, pengobatan Reni masih menggunakan BPJS. Namun, keluarga Reni kesulitan untuk memenuhi kebutuhan transport dari Desa Pesantren, Kecamatan Blado menuju Rumah Sakit Qolbul Insan Mulia (QIM) Batang guna pemeriksaan dan pengobatan rutin Reni. Merespon kondisi Reni, tim Aksi Cepat Tanggap akan membantu Reni.

“InsyaAllah tim ACT Pekalongan dan MRI Batang akan berupaya maksimal untuk mendampingi Dek Reni,” ujar Aditya Nugraha, Program Implementator  ACT Pekalongan.

Untuk membantu Reni, ACT Pekalongan membuka donasi di laman ini. Rencananya, ACT Pekalongan bersama tim MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) Batang akan berupaya untuk melakukan pendampingan pengobatan medis Reni.

banner 1200x300